Senin, 10 Juli 2017

mengkhidmati mie instan masakan istri

Meski demikan menikah bukanlah kebutuhan utama manusia untuk hidup. Menikah hanya kebutuhan sekunder yang terkesan dipaksakan agar tak lagi dicap kaum kelas kedua semacam jomblo yang selalu berdoa minta hujan di malam minggu. Menikah saat ini bukan hanya untuk beregenerasi saja namun juga agar tidak di-ece saat kondangan maupun kumpul lebaran di rumah sanak saudara.

Kebutuhan utama manusia itu tetap urusan perut. Makan. Tanpa lapar kita tak mungkin jungkir balik mengkeritingkan jari demi kebutuhan selfie di restoran yang terkini. Tapi menikah dan makan ini juga ada kaitannya, bahkan penting malahan, sepenting menunggu kepastian kapan harga kuota internet turun dari provider milik plat merah itu. Begitu mungkin aku melihat fenomena sekarang ini ditambah ilmu cocokologi yang disandingkan dengan kanuragan ngawurisme.

Urusan saya menyegerakan menikah bukan karena ingin segera mengalami sendiri peristiwa malam pertama sambil deg-degan hebat apalagi saat mbak-nya membuka kerudung untuk pertama kalinya di depan mata saya. Sungguh! Momen itu adalah momen di mana saya ingin langsung ”mbrakot” istri saya di atas ranjang sambil mempraktikan apa yang telah saya lihat di koleksi video bokep milik teman. Bukan. Bukan itu, saya menikah karena salah satunya memiliki alasan sederhana, hanya karena sudah malas berpikir, "nanti mau makan di mana? Pakai lauk apa?"

Sebagai lelaki yang tumbuh dari keluarga yang ibunya suka memasak untuk acara arisan atau takjilan saat puasa ini sudah terlalu merindukan masakan rumah. Merantau ke kota yang jauh dari orang tua itu sungguh menyiksa. Padahal cuma urusan perut, tapi ini bisa menjadi problematika anak muda saat ini, apalagi yang masih pacaran saat malam minggu pacarannya ditanya mau makan apa. Cuma jawab, terserah. Kalau dulu aku yang dapat pertanyaan itu langsung berhenti dan aku pulangkan kembali si pacar daripada hanya menjadi perdebatan macam bumi itu bulat atau datar sepanjang jalan mencari warung yang tanpa ujung.

Sabtu, 18 Februari 2017

untukmu

Selamat menempuh hidup baru ya...

Hai sahabat, apakah kalian mengharapkan aku mati? Bukankah kata pujangga hidup hanya sekali? Sedang jika engkau memberikan ucapan selamat seperti itu maka berharap aku segera dan bisa bertahan di dunia yang baru.

Menikah itu bukan tentang kehidupan yang baru. Menikah hanya mengubah, ah salah, bukan mengubah hanya sedikit bergeser. Yang biasanya sendiri sekarang akan dimulai berdua dan segera menyusul (yang selalu hampir diharapkan tentang semua pernikahan) adalah bertiga, berempat, berlima dan seterusnya. Duh kok malah curhat tentang menikah. Hihihi.

Ucapan "selamat menempuh hidup baru" itu aku yakini sebagai doa dari para sahabat untuk kehidupanku kelak. Sebuah kehidupan yang katanya akan memiliki jenjang yang berbeda, baik dari segi hambatan, solusi dan rezeki.

Maka teruntuk nanti perempuan yang akan mendampingiku sampai kelak sampai kapanpun, jadilah wanita yang seperti engkau inginkan. Aku, akan senantiasa dan setia untuk mewujudkan cita-cita dan keinginanmu.

Wahai perempuan yang nantinya akan menjadi orang pertama dalam menenangkanku, orang pertama yang akan kau sapa di pagi hari, menjadi yang pertama cerita tentang apapun itu. Tetaplah tegar dan bahagia, karena denganmu meski itu hanya nasi sambal aku bisa bahagia.

Wanita yang kelak menjadi tabung dari spermaku. Buahilah sel-sel itu, maka esok mereka akan menjadi manusia-manusia yang telah kita impikan selama ini.

Terima kasih Novelia Citraresmi.

Sabtu, 31 Desember 2016

Catatan 16

Catatan ini harus diawali dengan quote yang sudah mahfum di negeri ini. Manusia hanya merencanakan kemudian Tuhan yang menentukan. Demikianlah memang adanya, resolusi, buah pemikiran, angan dan keinginan, cita-cita ataupun impian di awal semua akan menjadi terlaksana atau berbeda hasilnya namun itu malah menjadi sebuah hasil yang terbaik.

Ada hasil yang kita buruk di awal, namun setelah dijalani itu menjadi impian yang terlaksana dengan jalan yang berbeda. Ada pula angan yang berhasil dikabulkan, dengan tepat waktu dan tepat sasaran. Ini juga tak luput dari rencana dan sebuah restu.

Bagi yang tak percaya Tuhan, maka ini menjadi sia-sia. Namun bagaimanapun, manusia butuh sisi spiritual. Entah hanya merenung ataupun mengenang.

Lalu bagaimana dengan rencanaku? Iya sama seperti di awal paragraf. Aku hanya bisa merencanakan, menjalankan, memilih yang terbaik dan kembali, Tuhan punya andil untuk menentukan hasil akhir yang dikira baik untuk semua.

Tertempa

Tak ada yang baik
Malah ini menjadi yang terbaik
Tak puas?
Ini malah memuaskan semuanya

Katakan

Ketika sudah tak lagi percaya
Tanpa kawan tanpa teman
Bahkan di kesendirian
Selalu akan ada yang mendengar

Kau

Jika ada perjumpaan
Selalu diikuti perpisahan
Namun kamu telah mengajarkan
Arti kerelaan dan keikhlasan

Terima kasih

Dalam-dalam
Sangat dalam
Begitu dalam
Hingga sudah masuk ke sel atom

Minggu, 31 Juli 2016

lorong rumah sakit


Sepi, saat banyak sekali rintihan dan tangisan ia menjadi saksi
Berharap pada sebuah institusi untuk kembali kepada kehidupannya
Roda-roda kecil tak henti menggelinding, membawa perbekalan, membawa barang yang terinfeksi dan tentu saja membawa si pasisn

Suster-suster sedang asyik bercengkerama
Mereka tertawa, riang
Kurang dari sejam yang lalu mereka harus berjibaku dengan darah, tinja dan erangan bahkan makian

Sedangan si manusia berjubah putih berlalu
Ada yang terburu, ada yang pula sedang bermain gawai
Mereka selalu memboponh tas kecil yang entah sekarang berisi apa saja
Dokter berposisi menjadi penyerang di dalam bangunan ini
Ialah prajurit garda terdepan

Lorong ini juga pernah bercerita kepadaku
Disini pula banyak orang yang meluapkan perasaannya
Di dalam sebuah bangunan yang bermakna konotasi
Di sini di negeri yang masih bergejolak
Kesehatan masih menjadi barang mahal dan rakyat masih takut untuk ke sini

20160731
Bersandar di tiang sebuah lorong rumah sakit

Sabtu, 30 April 2016

karton biru berbentuk kupu-kupu


Langit yang cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap tertutup awan mendung setelah tepat sebelumnya tiba-tiba muncul angin yang begitu kencang. Aku yang waktu itu sedang asyik bercengkerama tiba-tiba langsung keluar ruangan dan mengecek keadaan cuaca yang tiba-tiba menjadi seperti di film-film horor. Ponselku berdenting, ada SMS masuk, tertulis bahwa di kota yang sekarang kutinggali sebelah barat sudah hujan. Di sini pun akan demikian tinggal menunggu waktu, pikirku demikian.

Belum selesai aku berpikir, hujan benar menghampiri. Deras. Bahkan sangat deras dan disertai angin. Aku sedikit cemas karena tak membawa jas hujan, untungnya ada orang datang ke rumah mengenakan jas hujan, tanpa babibu membawa babu aku pinjam jas hujan itu. Pergi! Menuju suatu tempat di mana kereta biasanya bersandar sebentar untuk memuntahkan sebagian isi perutnya dan diisi dengan yang lain.

Drama penjemputan telah berhasil dilaksanakan! Misi berhasil dilakukan dengan jas hujan pinjaman. Setibanya di rumah, ia membuka sebuah kantong plastic besar yang ia genggam selama perjalanan. “ini untuk menggantikan dari Nabila,” katanya singkat sebelum masuk rumah.

Aku membukanya, ada sekotak makan yang berisi agar-agar yang ditaburi beberapa potong buah dan secarik kertas biru. Aku buka sebentar, tanpa sempat membacanya lalu dengan spontan saja aku mengucapkan terima kasih kepadanya. Sambil melipat kembali kertas tersebut dan memasukannya ke kantong belakang celana jin.
                                                                               ------ -------

Kamis, 21 April 2016

surat untuk kartini

Hai ibu kita Kartini.
Demikianlah aku mengenal dan mengenangmu, sematan "ibu kita" gara-gara mungkin aku terlalu hafal dengan lagu yang diciptakan oleh W. R Supratman/ Lha gimana enggak hafal waktu kecil aku sering dinyanyikan nenekku lagu ini selain lagu-lagu nasional lainnya. Nenekku memang nasionalis sejati, hingga pas coblosan nek ra kuning wegah nyoblos, hahaha.

Kebetulan juga aku dibesarkan di kota yang menjadi makammu, meskipun aku tak pernah mengunjungi makammu barang sekalipun aku masih bisa khasmu, kebaya dan sanggul, sebuah kebudayaan berpakaian yang akan semakin ditinggalkan di era kerudungisasi ini. Di ulang tahunku ke-11 aku pernah diajak ibuku untuk sowan ke rumahmu, kala engkau sudah dipersunting bupati kotaku pada masanya. Usia dimana anak-anak yang lain malas berkunjung ke museum, aku malah terperangah dengan tulisan halusmu yang terpajang rapi di etalase kaca saat di pintu masuk kediamanmu. Terlebih aku sangat kagum dengan set kamar mandi Sang Pahlawan wanita, bathub lengkap dengan sowernya, Sejujurnya, waktu itu aku ndhomblong, lha gimana ndak ndhomblong, cah ndeso ditontonke barang uapike koyo ngono, sing mung reti ning telenovela ning tipi-tipi.

Alasan ketiga kenapa aku menghafalimu, kebetulan tanggal lahir kita hampir mirip. Aku menyapa dunia sehari setelah engkau dilahirkan, hari dimana saat ini bangsa ini memperingati perjuanganmu. Tentu saja aku bersyukur, untung aku tak dinamakan Kartono atau Kartoni, cukup Tomi yang belakangan aku baru tahu itu gabungan nama kedua orang tuaku.

Setiap April, pasti sekolah-sekolah dan perkantoran pemerintah akan memperingati 21-an, sebuah agenda sehari dalam setahun kebaya, sanggul dan jarik menjadi pakaian yang jamak dipakai. Aku enggak paham, mengapa memperingatimu harus berpakaian sepertimu, bagaimana jimka pahlawan pejuang wanita itu dari Papua? betapa aku akan selalu merindukan momen 21-an ini.




Senin, 07 Maret 2016

Tokoh satu: Nabila Si Ratu Buku

Nabila (dua dari kiri) dan geng kepompongnya beserta salah satu kakak lukis, Kak Satria.
sumber gambar: instagram.com/rumahhebatindo
Tak ada yang berani mengganggunya. Jika ia sudah memilih buku kemudian membacanya di sudut ruangan taman baca tersebut. Gadis yang dulu biasanya datang ke rumah itu bersama kakaknya sekarang sudah berani datang sendiri untuk membaca buku-buku favoritnya. Buku yang ia sukai biasanya terletak di rak sebelah barat ruangan taman baca tersebut, rak yang khusus menyediakan buku anak-anak terutama tentang dongeng dan ilmu pengetahuan tentang hewan.

Cukup sapa saja dengan memanggil namanya, selebihnya jangan kau ajak bicara apalagi ngobrol ngalor ngidul jika tak mau mendapat sebuah muka masam yang keluar dari wajah manisnya. Lebih parahnya lagi, kau akan diteriaki dan kemudian jika kau bertemu lagi di lain hari, ia tak akan menyapamu.

Setelah selesai membaca, ia akan mengembalikan buku yang ia baca ke tempat semula. Kemudian barulah ia menyapa orang-orang yang berada di dalam rumah yang jika pagi hingga siang menjelma menjadi taman baca itu. Ia gadis yang sangat ramah, selama ia tak lagi sedang membaca buku favoritnya.

Tahukah kamu? Aku pernah iseng, mencoba menggodanya saat ia sedang asyik membaca. Awalnya ia memperingatkanku dengan sopan, aku masih saja menggodanya, ia berpindah tempat ke sudut yang lebih senyap. Aku tak mau kalah, aku hampiri dia lalu mengajaknya mengobrol.

Hahahaha
© TomiKur niawan sejak 2008 | desain pola oleh Tomikur